Kebodohan mengikis kebenaran yang hakiki

Kebodohan mengikis kebenaran yang hakiki

Sabtu, 05 Februari 2011

Bunda Maria Saja Memakai Jilbab!

“Manusia bisa membelengu raga siapa pun namun tidak mampu membelengu sebuah keyakinan yang berdiri kokoh bagai tembok dalam pikiran seseorang.”
Dewa Klasik Alexander
 

Aku menatap Agnes.
“Kamu yakin ingin memakai cadar?” tanyanya dengan ragu.
“Aku yakin. Kamu tidak perlu kuatir, meski aku memakai cadar kamu tetap temanku.”
“Tapi apa kata orang ketika kamu memakai cadar nanti?”
Pertanyaan Agnes yang ku kenal sejak kecil itu mengejutkanku.
Aku diam sejenak.
“Ketika kamu yakin dengan sesuatu maka apa pun kata orang tak akan mampu menggugah keyakinan itu.”
“Kalau begitu aku mendukungmu, Aisyah.”
Aku tersenyum manis.
Meski aku dan Agnes berbeda keyakinan namun kami bersahabat.
“Aisyah… Aku memutuskan untuk menjadi seorang biarawati.”
Aku menatap tajam Agnes untuk kedua kalinya.
Apa yang akan aku alami itu juga yang akan dialami oleh Agnes.


##########
Cadar Muslimah

“Ayah tidak setuju kamu memakai cadar!”
Kalimat keras itu terlontar dari bibir ayahku setelah aku mengutarakan niatku untuk memakai cadar.
“Apa jilbab yang kamu pakai masih kurang?” tanya ibuku.
Aku hanya diam. Tidak ada lagi kalimat yang bisa kuucapkan untuk meyakinkan kedua orang tuaku dengan niatku tersebut. Semua penjelasanku tidak ada yang bisa mereka terima.


##########



Agnes menangis dipangkuanku. Betapa kecewanya dia ketika kedua orang tuanya tidak mengizinkannya untuk menjadi seorang biarawati. Bertahun-tahun dia bergumul dengan kerinduannya untuk menjadi seorang biarawati namun keinginannya harus dikuburnya dalam-dalam.
Apa yang harus aku katakan padanya? Bagaimana aku harus menghiburnya? Jika aku sendiri mengalami apa yang dia rasakan. Air mataku tidak berhasil meluluhkan hati kedua orang tuaku dengan keinginanku memakai cadar. Aku hanya menangis. Sepertinya Tuhan jauh lebih mengerti bahasa air mata kami dibandingkan kalimat kekecewaan kami.
Biarawati



##########

24 Juli 2010
Fontana della barcia merupakan air mancur yang terdapat dekat tangga Spanyol ( Piazza Spagna). Bentuk air mancur ini juga menarik seperti perahu dan di tengahnya seperti tempat lilin.
Disinilah aku dan Agnes sekarang. Menyuarakan pendapat kami. Setelah bertahun-tahun,  akhirnya kami berhasil menjadi seperti yang kami inginkan. Aku menjadi salah seorang guru mengaji bagi sekolompok kaum muslimah di Roma dan Agnes menjadi salah satu biarawati di salah satu gereja Katolik di sini juga.
Kami kembali bersama di sini. Di fontana della barcia . Mengeluarkan pendapat kami.
“Jika perawan Maria mengenakannya. Jika para biarawati memakai penutup kepala yang menyerupai jilbab, saya ingin bertanya bagaimana para wanita bisa menentang orang mengenakan jilbab?” terdengar orasi Agnes dengan lantang. Dia tetap bersuara meski tidak dihiraukan oleh mereka yang lewat di sekitar fontana della barcia.
Aku dan Agnes menentang pelarangan memakai jilbab di Italia. Namun orasi itu berhenti ketika ada dua polisi yang membawa paksa  aku dan Agnes dengan tangan diborgol. Aku hanya diam dan menangis.
“Apa yang salah dengan jilbab sehingga harus dilarang?” ucapnya dalam bahasa Italia sebelum memasuki mobil polisi yang membawanya ke kantor polisi.


#############
TAMAT




sumber: http://www.facebook.com/home.php?sk=group_139301356133242&refid=0#!/note.php?note_id=477760763222



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Harap komentar tidak mengandung SARA